Rintangan Berpikir Secara Jelas
Berpikir bagi manusia merupakan sarana untuk memahami kenyataan atau untuk memecahkan masalah sehari-hari atau masalah yang bersifat ilmiah. Semuanya itu tidak dengan begitu saja dapat dilakukan melainkan ada rintangan-rintangan sehingga kegiatan berpikir itu tidak mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Seperti halnya rintangan dalam berbicara yang memungkinkan si pembicara tidak dapat berbicara secara jelas, demikian pula ada beberapa rintangan yang menghambat manusia untuk dapat berpikir secara jelas. Hal-hal seperti emosi, kepentingan pribadi, tekanan-tekanan dari luar dapat menyesatkan pemikiran. Rintangan-rintangan untuk berpikir secara jelas dapat merupakan sebab sehingga ilmu dan filsafat menjadi sesat. Secara khusus rintangan-rintangan ini mempengaruhi dan menyesatkan pengetahuan sehari-hari atau pengetahuan akal-sehat (common sense).
Francis Bacon (1564-1626) memberikan contoh-contoh klasik tentang kesalahan-kesalahan berpikir yang disebutnya Idols of the Mind, yang terdiri atas the Idols of the Tribe, the Idols of the Cave, the Idols of the Market-place dan the Idols of the Theater.
1. Idola Kesukuan (Idols of the Tribe). Idola ini bersumber pada sifat dasar manusia sendiri yaitu bahwa setiap manusia mesti terikat pada lingkungan kesukuan, ras, atau golongan-golongan. Manusia cenderung untuk setuju terhadap hal-hal yang sesuai dengan dirinya sendiri. Dengan demikian mereka dengan mudah sampai pada kesimpulan dan tidak mengetahui bukti-bukti yang saling bertentangan. Hal ini secara khusus dapat terjadi apabila melibatkan kepentingan ras, suku atau kelompok. Temperamen seseorang mungkin ditentukan oleh jabatan atau status sosialnya. Orang suka bekerjasama dengan mereka yang memiliki selera dan pandangan yang sama. Kelompok orang-orang tertentu cenderung untuk menerima kesimpulan-kesimpulan yang sama dan berbagai kepentingan kemungkinan dapat menguasai mereka.
2. Idola Goa (Idols of the Cave). Idola ini bersangkutan dengan manusia sebagai individu. Setiap manusia dikiaskan mempunyai goa (cave) atau kandang (den) nya sendiri-sendiri yang dapat memberi warna sifat-sifatnya. Manusia cenderung meninjau dirinya sebagai pusat dari dunia sekelilingnya. Semua penafsiran ditentukan oleh sudut pandangan pribadinya dan terbatas. Mereka cenderung melebih-lebihkan pengetahuan yang disenanginya yang diperoleh dari bacaan dan pengalaman pribadi.
3. Idola Pasar (Idols of the Market-place). Idola ini timbul karena penggunaan kata-kata dan nama-nama dalam pembicaraan sehari-hari. Bahasa dapat menyesatkan manusia untuk menjelaskan gagasan-gagasan. Pemilihan kata-kata yang jelek dan tidak tepat dapat menimbulkan pemikiran yang sesat. Hal ini dapat terjadi bila manusia menggunakan kata-kata yang kabur, bermakna ganda (ambigous) dan emosional. Kata-kata seperti orang komunis, orang Islam, kelompok radikal, gerakan ekstrim artinya mungkin tidak jelas. Kata-kata itu dapat membangkitkan emosi dan menimbulkan perilaku yang salah bila diterapkan.
4. Idola Teater (Idols of the Theater). Idola ini terjadi karena keterikatan manusia pada partai, keyakinan, dogma-dogma, filsafat, ilmu, agama dan sistem-sistem pemikiran pada waktu tertentu. Sistem-sistem yang diterima sedemikian banyaknya yang menjadi dunia ciptaan manusia sendiri. Semuanya itu dapat mempengaruhi manusia karena dianut oleh orang banyak. Mode-mode, hobby dengan mudah dapat menggoncangkan kehidupan manusia. Isme-isme, ideologi, aliran-aliran pemikiran dalam bidang filsafat, ekonomi, politik dan seni dapat mempengaruhi alam pikiran penganutnya dan mereka dapat menyimpulkan secara sesat.
Rintangan-rintangan untuk berpikir secara jelas, di samping karena empat hal di atas juga dapat diungkapkan dengan cara lain yaitu karena prasangka, propaganda dan autoritarianisme. Prasangka selalu menghalangi manusia untuk berpikir secara lurus. Akal manusia sering sulit menerima pendapat orang lain kecuali kalau semua bukti sudah dikemukakan. Meskipun bukti-bukti sudah dikumpulkan, prasangka sering menghambat untuk menyimpulkan secara lurus. Prasangka biasanya berdasar pada emosi dan cenderung sesuai dengan kesenangan dan kepentingan pribadi. Bila orang berprasangka, ia berusaha untuk merasionalisasikan, berusaha menemukan “alasan” atas hal-hal yang dipercayainya
Orang tidak dapat berpikir secara jelas karena terpengaruh oleh propaganda. Bila manusia ingin menghadapi fakta-fakta dan berpikir jelas, pemikirannya dapat sesat karena informasi-informasi yang diterima dapat diputarbalikkan. Para ahli propaganda menggunakan radio, tv, surat kabar dan film untuk mengendalikan pemikiran manusia. Para ahli propaganda pertama-tama membangkitkan emosi atau keinginan orang dan kemudian dengan cara yang sugestif menyajikan cara bertindak yang kelihatannya dengan cara yang memuaskan bagi perwujudan emosi atau keinginan.
Rintangan lain yang menghambat berpikir secara jelas adalah authority (kewibawaan atau wewenang ). Ketertarikan secara tidak kritis atau membuta adalah suatu metode untuk memperoleh pengetahuan yang tidak filsafati dan tidak ilmiah. Authority dapat berupa kebiasaan, tradisi, keluarga, agama, negara atau media massa. Penerimaan secara tidak kritis dari authority disebut authoritarianism. Bila seseorang menerima pengetahuan atau informasi dari authority secara tidak kritis berarti usahanya untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah menjadi tidak bebas. Cara yang tepat untuk menerima pengetahuan atau informasi dari authority adalah cara yang kritis dalam arti tidak menerima begitu saja melainkan penerimaan tentang kebenaran pengetahuan ini dapat dilakukan setelah diperoleh bukti-bukti yang memperkuatnya.
Francis Bacon (1564-1626) memberikan contoh-contoh klasik tentang kesalahan-kesalahan berpikir yang disebutnya Idols of the Mind, yang terdiri atas the Idols of the Tribe, the Idols of the Cave, the Idols of the Market-place dan the Idols of the Theater.
1. Idola Kesukuan (Idols of the Tribe). Idola ini bersumber pada sifat dasar manusia sendiri yaitu bahwa setiap manusia mesti terikat pada lingkungan kesukuan, ras, atau golongan-golongan. Manusia cenderung untuk setuju terhadap hal-hal yang sesuai dengan dirinya sendiri. Dengan demikian mereka dengan mudah sampai pada kesimpulan dan tidak mengetahui bukti-bukti yang saling bertentangan. Hal ini secara khusus dapat terjadi apabila melibatkan kepentingan ras, suku atau kelompok. Temperamen seseorang mungkin ditentukan oleh jabatan atau status sosialnya. Orang suka bekerjasama dengan mereka yang memiliki selera dan pandangan yang sama. Kelompok orang-orang tertentu cenderung untuk menerima kesimpulan-kesimpulan yang sama dan berbagai kepentingan kemungkinan dapat menguasai mereka.
2. Idola Goa (Idols of the Cave). Idola ini bersangkutan dengan manusia sebagai individu. Setiap manusia dikiaskan mempunyai goa (cave) atau kandang (den) nya sendiri-sendiri yang dapat memberi warna sifat-sifatnya. Manusia cenderung meninjau dirinya sebagai pusat dari dunia sekelilingnya. Semua penafsiran ditentukan oleh sudut pandangan pribadinya dan terbatas. Mereka cenderung melebih-lebihkan pengetahuan yang disenanginya yang diperoleh dari bacaan dan pengalaman pribadi.
3. Idola Pasar (Idols of the Market-place). Idola ini timbul karena penggunaan kata-kata dan nama-nama dalam pembicaraan sehari-hari. Bahasa dapat menyesatkan manusia untuk menjelaskan gagasan-gagasan. Pemilihan kata-kata yang jelek dan tidak tepat dapat menimbulkan pemikiran yang sesat. Hal ini dapat terjadi bila manusia menggunakan kata-kata yang kabur, bermakna ganda (ambigous) dan emosional. Kata-kata seperti orang komunis, orang Islam, kelompok radikal, gerakan ekstrim artinya mungkin tidak jelas. Kata-kata itu dapat membangkitkan emosi dan menimbulkan perilaku yang salah bila diterapkan.
4. Idola Teater (Idols of the Theater). Idola ini terjadi karena keterikatan manusia pada partai, keyakinan, dogma-dogma, filsafat, ilmu, agama dan sistem-sistem pemikiran pada waktu tertentu. Sistem-sistem yang diterima sedemikian banyaknya yang menjadi dunia ciptaan manusia sendiri. Semuanya itu dapat mempengaruhi manusia karena dianut oleh orang banyak. Mode-mode, hobby dengan mudah dapat menggoncangkan kehidupan manusia. Isme-isme, ideologi, aliran-aliran pemikiran dalam bidang filsafat, ekonomi, politik dan seni dapat mempengaruhi alam pikiran penganutnya dan mereka dapat menyimpulkan secara sesat.
Rintangan-rintangan untuk berpikir secara jelas, di samping karena empat hal di atas juga dapat diungkapkan dengan cara lain yaitu karena prasangka, propaganda dan autoritarianisme. Prasangka selalu menghalangi manusia untuk berpikir secara lurus. Akal manusia sering sulit menerima pendapat orang lain kecuali kalau semua bukti sudah dikemukakan. Meskipun bukti-bukti sudah dikumpulkan, prasangka sering menghambat untuk menyimpulkan secara lurus. Prasangka biasanya berdasar pada emosi dan cenderung sesuai dengan kesenangan dan kepentingan pribadi. Bila orang berprasangka, ia berusaha untuk merasionalisasikan, berusaha menemukan “alasan” atas hal-hal yang dipercayainya
Orang tidak dapat berpikir secara jelas karena terpengaruh oleh propaganda. Bila manusia ingin menghadapi fakta-fakta dan berpikir jelas, pemikirannya dapat sesat karena informasi-informasi yang diterima dapat diputarbalikkan. Para ahli propaganda menggunakan radio, tv, surat kabar dan film untuk mengendalikan pemikiran manusia. Para ahli propaganda pertama-tama membangkitkan emosi atau keinginan orang dan kemudian dengan cara yang sugestif menyajikan cara bertindak yang kelihatannya dengan cara yang memuaskan bagi perwujudan emosi atau keinginan.
Rintangan lain yang menghambat berpikir secara jelas adalah authority (kewibawaan atau wewenang ). Ketertarikan secara tidak kritis atau membuta adalah suatu metode untuk memperoleh pengetahuan yang tidak filsafati dan tidak ilmiah. Authority dapat berupa kebiasaan, tradisi, keluarga, agama, negara atau media massa. Penerimaan secara tidak kritis dari authority disebut authoritarianism. Bila seseorang menerima pengetahuan atau informasi dari authority secara tidak kritis berarti usahanya untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah menjadi tidak bebas. Cara yang tepat untuk menerima pengetahuan atau informasi dari authority adalah cara yang kritis dalam arti tidak menerima begitu saja melainkan penerimaan tentang kebenaran pengetahuan ini dapat dilakukan setelah diperoleh bukti-bukti yang memperkuatnya.


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda