Bersangkutan dengan Nilai-nilai
Persoalan-persoalan kefilsafatan bertalian dengan keputusan-keputusan tentang pernilaian moral, estetis, agama dan sosial. Filsafat merupakan kegiatan untuk mencari kebijaksanaan atau kearifan (wisdom), jadi bukan mencari informasi tentang fakta-fakta. Yang dimaksud dengan wisdom adalah suatu sikap menilai dan menimbang-nimbang sejumlah tindakan dengan memberikan penafsiran yang masuk akal.
Nilai (value) adalah keberhargaan atau keunggulan pada sesuatu hal yang menjadi objek dari keinginan manusia yang didambakan, diperjuangkan dan dipertahankan. Dengan adanya nilai-nilai yang ada dalam kehidupan manusia, maka manusia merasa senang, merasa puas atau merasa bahagia. Nilai-nilai bersangkutan dengan pemahaman dan penghayatan manusia. Para filsuf mendiskusikan pertanyaan tentang nilai-nilai yang terdalam (ultimate values). Kebanyakan pertanyaan kefilsafatan berkaitan dengan hakikat nilai-nilai. Hasil-hasil pemikiran manusia tentang alam, kedudukan manusia dalam alam, sesuatu yang dicita-citakan manusia, semuanya itu secara tersirat mengandung nilai-nilai. Misalnya pertanyaan “apakah Tuhan itu? Jawaban yang diberikan berupa norma-norma yang digunakan dalam menilai tindakan dan memberi bimbingan dalam mengadakan pilihan atas perbuatan yang akan dilakukan.
Ada perbedaan antara filsafat dan ilmu dalam kaitannya dengan masalah nilai-nilai. Ilmu pengetahuan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang fakta-fakta yang bersifat kuantitatif. Ilmu pengetahuan tidak memberikan jawaban tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ilmuwan. Apabila seorang ilmuwan diajukan pertanyaan tentang hydrogin cyanide dan penicilin, maka mereka akan menjawab bahwa hydrogin cyanide adalah racun yang baik, sedangkan penicilin adalah zat pembunuh kuman. Jawaban ilmuwan hanya berupa fakta-fakta. Dalam hal ini ilmuwan tidak memberikan jawaban atas pertanyaan apakah euthanasia atau mematikan (bukan membunuh) pasien karena belas kasihan (mercy killing) dapat dibenarkan secara moral ataukah tidak. Hanya mengandalkan ilmu saja, para ilmuwan tidak mengetahui apa yang seharusnya dilakukan terhadap penicilin dan hydrogin cyanide.
Nilai (value) adalah keberhargaan atau keunggulan pada sesuatu hal yang menjadi objek dari keinginan manusia yang didambakan, diperjuangkan dan dipertahankan. Dengan adanya nilai-nilai yang ada dalam kehidupan manusia, maka manusia merasa senang, merasa puas atau merasa bahagia. Nilai-nilai bersangkutan dengan pemahaman dan penghayatan manusia. Para filsuf mendiskusikan pertanyaan tentang nilai-nilai yang terdalam (ultimate values). Kebanyakan pertanyaan kefilsafatan berkaitan dengan hakikat nilai-nilai. Hasil-hasil pemikiran manusia tentang alam, kedudukan manusia dalam alam, sesuatu yang dicita-citakan manusia, semuanya itu secara tersirat mengandung nilai-nilai. Misalnya pertanyaan “apakah Tuhan itu? Jawaban yang diberikan berupa norma-norma yang digunakan dalam menilai tindakan dan memberi bimbingan dalam mengadakan pilihan atas perbuatan yang akan dilakukan.
Ada perbedaan antara filsafat dan ilmu dalam kaitannya dengan masalah nilai-nilai. Ilmu pengetahuan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang fakta-fakta yang bersifat kuantitatif. Ilmu pengetahuan tidak memberikan jawaban tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ilmuwan. Apabila seorang ilmuwan diajukan pertanyaan tentang hydrogin cyanide dan penicilin, maka mereka akan menjawab bahwa hydrogin cyanide adalah racun yang baik, sedangkan penicilin adalah zat pembunuh kuman. Jawaban ilmuwan hanya berupa fakta-fakta. Dalam hal ini ilmuwan tidak memberikan jawaban atas pertanyaan apakah euthanasia atau mematikan (bukan membunuh) pasien karena belas kasihan (mercy killing) dapat dibenarkan secara moral ataukah tidak. Hanya mengandalkan ilmu saja, para ilmuwan tidak mengetahui apa yang seharusnya dilakukan terhadap penicilin dan hydrogin cyanide.


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda