Pertanyaan Kefilsafatan
Menurut Plato, filsafat dimulai karena adanya rasa kekaguman, ketakjuban (Ingg. Wonder; Yun. Thauma). Orang yang kagum atau heran berarti ia menghadapi problim. Ada sesuatu yang tidak diketahui dari yang dihadapi, misalnya dari mana asalnya dan bagaimana sifat-sifatnya. Pada jaman dahulu sekitar 6 abad sebelum Masehi di Yunani, tempat munculnya filsafat, manusia kagum terhadap kejadian-kejadian alam yang merusak misalnya gempa bumi, banjir, badai, wabah penyakit, bencana kelaparan. Pada tahap awal kekaguman manusia lebih terarah pada hal-hal yang bersangkutan dengan alam semesta, atau hal-hal yang di luar diri manusia. Namun dalam perkembangan lebih lanjut manusia juga kagum terhadap dirinya sendiri, sehingga dia menanyakan “siapakah saya”, “darimana asalnya saya”, ”kemana pada akhirnya saya ”.
Hal yang tidak diketahui itu merupakan problim bagi manusia yang harus diperoleh jawabannya. Untuk memenuhi ketidaktahuannya itu manusia mulai mengajukan pertanyaan. Pada tahap awalnya, pertanyaan itu tidak ditujukan pada orang lain karena orang lain yang ditanya itu juga tidak tahu. Berdasar pada ketidaktahuan orang lain itulah maka pertanyaan itu ditujukan pada dirinya sendiri. Inilah yang disebut berefleksi atau berfilsafat. Mereka berfilsafat hanya sekedar memperoleh pengetahuan tanpa adanya dorongan (motif) untuk menggunakannya. Akal manusia mempunyai dua fungsi. Manusia menggunakan akalnya dengan cara deliberative (menurut Aristoteles praktikos, yaitu yang menyangkut perbuatan). Manusia berpikir tentang perbuatan-perbuatan apa yang harus dipilih dalam kerangka tujuan yang terakhir. Di lain pihak, muncul suatu keadaan dimana muncul suatu pemikiran yang tidak menyangkut tindakan. Pada kasus yang kedua ini manusia tertarik untuk memperoleh kebenaran tentang sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan tujuan-tujuan praktis. Manusia hanya sekedar mengetahui. Ini disebut pemakaian akal secara contemplative (Aristoteles menggunakan kata theoretikos yang berarti bersangkutan dengan mengetahui).
Dalam perkembangan lebih lanjut, problim-problim yang dihadapi para filsuf jawabannya dapat diperoleh dengan berpikir sendiri atau ditanyakan kepada orang lain dengan mengadakan dialog (tanya jawab). Pengetahuan yang dicari para filsuf mencakup baik pengetahuan tentang dunia tempat mereka hidup yaitu yang menyangkut pertanyaan apakah sesuatu hal itu (knowledge of what is) dan juga pengetahuan tentang “apa yang seharusnya diperbuat (knowledge of what ought to be). Pengetahuan tentang dunia yang mengelilingi manusia sebagian merupakan apa yang sekarang disebut ilmu (science), sehingga para filsuf angkatan pertama adalah juga sebagai ilmuwan. Di samping mencari pengetahuan tentang dunia yang mengelilinginya dan pengetahuan tentang kehidupan yang baik para filsuf mengadakan refleksi tentang apa yang mereka perbuat dan mengadakan pemeriksaan secara kritis terhadap dasar-dasar pengetahuan.
Filsuf Yunani Socrates (469-399 SM) tidak hanya tertarik untuk memperoleh pengetahuan tentang jenis kehidupan yang dianggap paling bernilai, namun ia juga mengadakan pemeriksaan tentang dasar-dasar sesuatu kehidupan yang lebih bernilai dibanding dengan kehidupan yang lain.
Plato (427-347 SM), menulis tentang masyarakat yang dicita-citakan (ideal society), dimana terwujud keadilan yang sempurna dan juga meneliti makna kata “keadilan” serta meneliti pelbagai cara untuk menetapkan apakah sesuatu msyarakat dikatakan adil ataukah tidak.
Demikian juga Aristoteles (384-322 SM), sebagai murid Plato, tidak hanya menulis buku-buku tentang fisika, biologi dan psikologi, tetapi juga menulis tentang logika, dan juga epistemologi (teori pengetahuan).
Terhadap sesuatu problim para filsuf di samping memikirkan sendiri, namun untuk memperoleh jawaban yang berupa kebenaran mereka juga mengadakan dialog-dialog (tanya jawab). Kata dialog berasal dari kata Yunani dialectic yang berarti bercakap-cakap. Dalam filsafat Yunani, dialektic berarti kemahiran (art) untuk mencari kebenaran melalui percakapan. Menurut Socrates, dialog merupakan kegiatan kefilsafatan yang pokok dan penting. Kebenaran tidak pernah selesai, sehingga perlu mendengar pendapat atau buah pikiran orang lain. Karena itu dalam melaporkan dan menerangkan filsafat, Socrates dan Plato menggunakan bentuk dialog.
Hal yang tidak diketahui itu merupakan problim bagi manusia yang harus diperoleh jawabannya. Untuk memenuhi ketidaktahuannya itu manusia mulai mengajukan pertanyaan. Pada tahap awalnya, pertanyaan itu tidak ditujukan pada orang lain karena orang lain yang ditanya itu juga tidak tahu. Berdasar pada ketidaktahuan orang lain itulah maka pertanyaan itu ditujukan pada dirinya sendiri. Inilah yang disebut berefleksi atau berfilsafat. Mereka berfilsafat hanya sekedar memperoleh pengetahuan tanpa adanya dorongan (motif) untuk menggunakannya. Akal manusia mempunyai dua fungsi. Manusia menggunakan akalnya dengan cara deliberative (menurut Aristoteles praktikos, yaitu yang menyangkut perbuatan). Manusia berpikir tentang perbuatan-perbuatan apa yang harus dipilih dalam kerangka tujuan yang terakhir. Di lain pihak, muncul suatu keadaan dimana muncul suatu pemikiran yang tidak menyangkut tindakan. Pada kasus yang kedua ini manusia tertarik untuk memperoleh kebenaran tentang sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan tujuan-tujuan praktis. Manusia hanya sekedar mengetahui. Ini disebut pemakaian akal secara contemplative (Aristoteles menggunakan kata theoretikos yang berarti bersangkutan dengan mengetahui).
Dalam perkembangan lebih lanjut, problim-problim yang dihadapi para filsuf jawabannya dapat diperoleh dengan berpikir sendiri atau ditanyakan kepada orang lain dengan mengadakan dialog (tanya jawab). Pengetahuan yang dicari para filsuf mencakup baik pengetahuan tentang dunia tempat mereka hidup yaitu yang menyangkut pertanyaan apakah sesuatu hal itu (knowledge of what is) dan juga pengetahuan tentang “apa yang seharusnya diperbuat (knowledge of what ought to be). Pengetahuan tentang dunia yang mengelilingi manusia sebagian merupakan apa yang sekarang disebut ilmu (science), sehingga para filsuf angkatan pertama adalah juga sebagai ilmuwan. Di samping mencari pengetahuan tentang dunia yang mengelilinginya dan pengetahuan tentang kehidupan yang baik para filsuf mengadakan refleksi tentang apa yang mereka perbuat dan mengadakan pemeriksaan secara kritis terhadap dasar-dasar pengetahuan.
Filsuf Yunani Socrates (469-399 SM) tidak hanya tertarik untuk memperoleh pengetahuan tentang jenis kehidupan yang dianggap paling bernilai, namun ia juga mengadakan pemeriksaan tentang dasar-dasar sesuatu kehidupan yang lebih bernilai dibanding dengan kehidupan yang lain.
Plato (427-347 SM), menulis tentang masyarakat yang dicita-citakan (ideal society), dimana terwujud keadilan yang sempurna dan juga meneliti makna kata “keadilan” serta meneliti pelbagai cara untuk menetapkan apakah sesuatu msyarakat dikatakan adil ataukah tidak.
Demikian juga Aristoteles (384-322 SM), sebagai murid Plato, tidak hanya menulis buku-buku tentang fisika, biologi dan psikologi, tetapi juga menulis tentang logika, dan juga epistemologi (teori pengetahuan).
Terhadap sesuatu problim para filsuf di samping memikirkan sendiri, namun untuk memperoleh jawaban yang berupa kebenaran mereka juga mengadakan dialog-dialog (tanya jawab). Kata dialog berasal dari kata Yunani dialectic yang berarti bercakap-cakap. Dalam filsafat Yunani, dialektic berarti kemahiran (art) untuk mencari kebenaran melalui percakapan. Menurut Socrates, dialog merupakan kegiatan kefilsafatan yang pokok dan penting. Kebenaran tidak pernah selesai, sehingga perlu mendengar pendapat atau buah pikiran orang lain. Karena itu dalam melaporkan dan menerangkan filsafat, Socrates dan Plato menggunakan bentuk dialog.


1 Komentar:
anjing
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda