Perbandingan Pemikiran Descartes, Spinoza, dan Leibniz

René Descartes (1596-1650)
(Dikenal sebagai Bapak Filsafat Modern)
•Pengetahuan sejati berasal dari akal budi manusia saja.
•Menggunakan metode keragu-raguan yang menimbulkan kepastian tentang adanya diri sendiri, dan dirumuskan menjadi:
COGITO ERGO SUM yang artinya SAYA BERPIKIR, KARENA ITU SAYA ADA.
•Membagi substansi menjadi tiga yaitu Tuhan, pikiran, dan keluasan.
•Manusia dualisme menurutnya yaitu jiwa dengan budi dan kesadarannya serta badan dengan keluasannya.

Baruch Spinoza (1632-1677)
•Menurutnya, dengan mengikuti metode geometri, kita dapat menghasilkan pengetahuan yang tepat mengenai dunia nyata.
•Sistem Spinoza menjelaskan kenyataan dalam dunia yang secara ketat ditentukan karena “tata dan hubungan ide-ide sama dengan tata dan hubungan benda-benda”. Sistem bertujuan untuk menjelaskan secara matematis bagaimana menjalankan hidup yang baik dan bermoral.
•Hanya ada satu substansi: “DEUS SIVE NATURA” yaitu ALLAH atau ALAM.
Allah dan semesta adalah satu dan sama (Panteisme).
•Budi dan materi hanyalah merupakan atribut dari substansi tunggal.

Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716)
•Menguraikan “prinsip dari yang terbaik”, antara lain Allah telah menciptakan dunia yang terbaik yang mungkin.
•Substansi berjumlah tidak terbatas yaitu terdiri dari monade-monade.
•Setiap monade berbeda dan mencerminkan seluruh semesta, tetapi tidak berada dalam raung dan waktu.
•Setiap monade bersifat immaterial dan mempunyai jiwa.
•Monade-monade kelihatan beraksi bersama melulu karena harmoni yang telah ditentukan sejak semula oleh Allah.

Prinsip-prinsip Pemikiran

Berpikir secara ilmiah dan berpikir secara kefilsafatan mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk memperoleh kebenaran. Proses berpikir yang khas disebut penalaran (reasoning) yang tahap terakhir adalah memperoleh kesimpulan (inference) yang benar dari segi isinya dan valid dari segi bentuknya. Penalaran adalah suatu corak pemikiran yang khas yang dimiliki manusia untuk dari pengetahuan yang ada kemudian memperoleh pengetahuan lainnya terutama sebagai sarana untuk memecahkan sesuatu masalah. Supaya kebenaran itu dapat diperoleh maka dalam berpikir tersebut harus mengikuti prinsip-prinsip berpikir.

Istilah Prinsip-prinsip berpikir, disebut dengan nama yang berbeda. Misalnya Ueberweg menyebutnya dengan Axioms of Inference, John Stuart Mill menyebutnya dengan Universal Postulates of Inference. Istilah prinsip dapat diartikan dengan kaidah atau hukum, yang inti artinya adalah suatu pernyataan yang mengandung kebenaran universal. Kebenaran ini tidak terbatas oleh ruang dan waktu, dimana dan kapan saja dapat digunakan. Prinsip itu tidak membutuhkan suatu pembuktian, yang jelas atau terbukti dengan sendirinya (self-evident), karena terlalu sederhana, maka prinsip itu disebut dengan aksioma atau prinsip dasar.

Aksioma berasal dari bahasa Yunani axioma = “yang dipikirkan bernilai”. Aksioma atau assumsi di dalam logika berarti keterangan yang kebenarannya diterima tanpa pembuktian lebih lanjut untuk menjadi dasar awal atau pegangan dalam sesuatu penalaran. Dalam arti umum aksioma dapat didefinisikan sebagai suatu pernyataan yang mengandung kebenaran universal yang kebenarannya sudah terbukti dengan sendirinya (self-evident). Aksioma merupakan sesuatu hal yang diterima sebagai pernyataan yang bersifat universal, dan merupakan pernyataan fundamental yang tidak dapat dideduksikan dari pernyataan lain serta sebagai titik totak dari diperolehnya suatu kesimpulan. Misalnya aksioma yang dikemukakan oleh Euklidus, seorang ahli geometrika Iskandariah di sekitar tahun 300 SM, yang menyatakan “suatu keseluruhan lebih besar daripada sebagian”. Pernyataan semacam ini merupangan suatu keterangan yang jelas atau terbukti dengan sendirinya, secara langsung dapat dimengerti sehingga tidak perlu membutuhkan hal-hal lain untuk membuktikan kebenarannya.

Rintangan Berpikir Secara Jelas

Berpikir bagi manusia merupakan sarana untuk memahami kenyataan atau untuk memecahkan masalah sehari-hari atau masalah yang bersifat ilmiah. Semuanya itu tidak dengan begitu saja dapat dilakukan melainkan ada rintangan-rintangan sehingga kegiatan berpikir itu tidak mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Seperti halnya rintangan dalam berbicara yang memungkinkan si pembicara tidak dapat berbicara secara jelas, demikian pula ada beberapa rintangan yang menghambat manusia untuk dapat berpikir secara jelas. Hal-hal seperti emosi, kepentingan pribadi, tekanan-tekanan dari luar dapat menyesatkan pemikiran. Rintangan-rintangan untuk berpikir secara jelas dapat merupakan sebab sehingga ilmu dan filsafat menjadi sesat. Secara khusus rintangan-rintangan ini mempengaruhi dan menyesatkan pengetahuan sehari-hari atau pengetahuan akal-sehat (common sense).

Francis Bacon (1564-1626) memberikan contoh-contoh klasik tentang kesalahan-kesalahan berpikir yang disebutnya Idols of the Mind, yang terdiri atas the Idols of the Tribe, the Idols of the Cave, the Idols of the Market-place dan the Idols of the Theater.

1. Idola Kesukuan (Idols of the Tribe). Idola ini bersumber pada sifat dasar manusia sendiri yaitu bahwa setiap manusia mesti terikat pada lingkungan kesukuan, ras, atau golongan-golongan. Manusia cenderung untuk setuju terhadap hal-hal yang sesuai dengan dirinya sendiri. Dengan demikian mereka dengan mudah sampai pada kesimpulan dan tidak mengetahui bukti-bukti yang saling bertentangan. Hal ini secara khusus dapat terjadi apabila melibatkan kepentingan ras, suku atau kelompok. Temperamen seseorang mungkin ditentukan oleh jabatan atau status sosialnya. Orang suka bekerjasama dengan mereka yang memiliki selera dan pandangan yang sama. Kelompok orang-orang tertentu cenderung untuk menerima kesimpulan-kesimpulan yang sama dan berbagai kepentingan kemungkinan dapat menguasai mereka.

2. Idola Goa (Idols of the Cave). Idola ini bersangkutan dengan manusia sebagai individu. Setiap manusia dikiaskan mempunyai goa (cave) atau kandang (den) nya sendiri-sendiri yang dapat memberi warna sifat-sifatnya. Manusia cenderung meninjau dirinya sebagai pusat dari dunia sekelilingnya. Semua penafsiran ditentukan oleh sudut pandangan pribadinya dan terbatas. Mereka cenderung melebih-lebihkan pengetahuan yang disenanginya yang diperoleh dari bacaan dan pengalaman pribadi.

3. Idola Pasar (Idols of the Market-place). Idola ini timbul karena penggunaan kata-kata dan nama-nama dalam pembicaraan sehari-hari. Bahasa dapat menyesatkan manusia untuk menjelaskan gagasan-gagasan. Pemilihan kata-kata yang jelek dan tidak tepat dapat menimbulkan pemikiran yang sesat. Hal ini dapat terjadi bila manusia menggunakan kata-kata yang kabur, bermakna ganda (ambigous) dan emosional. Kata-kata seperti orang komunis, orang Islam, kelompok radikal, gerakan ekstrim artinya mungkin tidak jelas. Kata-kata itu dapat membangkitkan emosi dan menimbulkan perilaku yang salah bila diterapkan.

4. Idola Teater (Idols of the Theater). Idola ini terjadi karena keterikatan manusia pada partai, keyakinan, dogma-dogma, filsafat, ilmu, agama dan sistem-sistem pemikiran pada waktu tertentu. Sistem-sistem yang diterima sedemikian banyaknya yang menjadi dunia ciptaan manusia sendiri. Semuanya itu dapat mempengaruhi manusia karena dianut oleh orang banyak. Mode-mode, hobby dengan mudah dapat menggoncangkan kehidupan manusia. Isme-isme, ideologi, aliran-aliran pemikiran dalam bidang filsafat, ekonomi, politik dan seni dapat mempengaruhi alam pikiran penganutnya dan mereka dapat menyimpulkan secara sesat.

Rintangan-rintangan untuk berpikir secara jelas, di samping karena empat hal di atas juga dapat diungkapkan dengan cara lain yaitu karena prasangka, propaganda dan autoritarianisme. Prasangka selalu menghalangi manusia untuk berpikir secara lurus. Akal manusia sering sulit menerima pendapat orang lain kecuali kalau semua bukti sudah dikemukakan. Meskipun bukti-bukti sudah dikumpulkan, prasangka sering menghambat untuk menyimpulkan secara lurus. Prasangka biasanya berdasar pada emosi dan cenderung sesuai dengan kesenangan dan kepentingan pribadi. Bila orang berprasangka, ia berusaha untuk merasionalisasikan, berusaha menemukan “alasan” atas hal-hal yang dipercayainya

Orang tidak dapat berpikir secara jelas karena terpengaruh oleh propaganda. Bila manusia ingin menghadapi fakta-fakta dan berpikir jelas, pemikirannya dapat sesat karena informasi-informasi yang diterima dapat diputarbalikkan. Para ahli propaganda menggunakan radio, tv, surat kabar dan film untuk mengendalikan pemikiran manusia. Para ahli propaganda pertama-tama membangkitkan emosi atau keinginan orang dan kemudian dengan cara yang sugestif menyajikan cara bertindak yang kelihatannya dengan cara yang memuaskan bagi perwujudan emosi atau keinginan.

Rintangan lain yang menghambat berpikir secara jelas adalah authority (kewibawaan atau wewenang ). Ketertarikan secara tidak kritis atau membuta adalah suatu metode untuk memperoleh pengetahuan yang tidak filsafati dan tidak ilmiah. Authority dapat berupa kebiasaan, tradisi, keluarga, agama, negara atau media massa. Penerimaan secara tidak kritis dari authority disebut authoritarianism. Bila seseorang menerima pengetahuan atau informasi dari authority secara tidak kritis berarti usahanya untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah menjadi tidak bebas. Cara yang tepat untuk menerima pengetahuan atau informasi dari authority adalah cara yang kritis dalam arti tidak menerima begitu saja melainkan penerimaan tentang kebenaran pengetahuan ini dapat dilakukan setelah diperoleh bukti-bukti yang memperkuatnya.

Pertanyaan Kefilsafatan

Menurut Plato, filsafat dimulai karena adanya rasa kekaguman, ketakjuban (Ingg. Wonder; Yun. Thauma). Orang yang kagum atau heran berarti ia menghadapi problim. Ada sesuatu yang tidak diketahui dari yang dihadapi, misalnya dari mana asalnya dan bagaimana sifat-sifatnya. Pada jaman dahulu sekitar 6 abad sebelum Masehi di Yunani, tempat munculnya filsafat, manusia kagum terhadap kejadian-kejadian alam yang merusak misalnya gempa bumi, banjir, badai, wabah penyakit, bencana kelaparan. Pada tahap awal kekaguman manusia lebih terarah pada hal-hal yang bersangkutan dengan alam semesta, atau hal-hal yang di luar diri manusia. Namun dalam perkembangan lebih lanjut manusia juga kagum terhadap dirinya sendiri, sehingga dia menanyakan “siapakah saya”, “darimana asalnya saya”, ”kemana pada akhirnya saya ”.

Hal yang tidak diketahui itu merupakan problim bagi manusia yang harus diperoleh jawabannya. Untuk memenuhi ketidaktahuannya itu manusia mulai mengajukan pertanyaan. Pada tahap awalnya, pertanyaan itu tidak ditujukan pada orang lain karena orang lain yang ditanya itu juga tidak tahu. Berdasar pada ketidaktahuan orang lain itulah maka pertanyaan itu ditujukan pada dirinya sendiri. Inilah yang disebut berefleksi atau berfilsafat. Mereka berfilsafat hanya sekedar memperoleh pengetahuan tanpa adanya dorongan (motif) untuk menggunakannya. Akal manusia mempunyai dua fungsi. Manusia menggunakan akalnya dengan cara deliberative (menurut Aristoteles praktikos, yaitu yang menyangkut perbuatan). Manusia berpikir tentang perbuatan-perbuatan apa yang harus dipilih dalam kerangka tujuan yang terakhir. Di lain pihak, muncul suatu keadaan dimana muncul suatu pemikiran yang tidak menyangkut tindakan. Pada kasus yang kedua ini manusia tertarik untuk memperoleh kebenaran tentang sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan tujuan-tujuan praktis. Manusia hanya sekedar mengetahui. Ini disebut pemakaian akal secara contemplative (Aristoteles menggunakan kata theoretikos yang berarti bersangkutan dengan mengetahui).

Dalam perkembangan lebih lanjut, problim-problim yang dihadapi para filsuf jawabannya dapat diperoleh dengan berpikir sendiri atau ditanyakan kepada orang lain dengan mengadakan dialog (tanya jawab). Pengetahuan yang dicari para filsuf mencakup baik pengetahuan tentang dunia tempat mereka hidup yaitu yang menyangkut pertanyaan apakah sesuatu hal itu (knowledge of what is) dan juga pengetahuan tentang “apa yang seharusnya diperbuat (knowledge of what ought to be). Pengetahuan tentang dunia yang mengelilingi manusia sebagian merupakan apa yang sekarang disebut ilmu (science), sehingga para filsuf angkatan pertama adalah juga sebagai ilmuwan. Di samping mencari pengetahuan tentang dunia yang mengelilinginya dan pengetahuan tentang kehidupan yang baik para filsuf mengadakan refleksi tentang apa yang mereka perbuat dan mengadakan pemeriksaan secara kritis terhadap dasar-dasar pengetahuan.

Filsuf Yunani Socrates (469-399 SM) tidak hanya tertarik untuk memperoleh pengetahuan tentang jenis kehidupan yang dianggap paling bernilai, namun ia juga mengadakan pemeriksaan tentang dasar-dasar sesuatu kehidupan yang lebih bernilai dibanding dengan kehidupan yang lain.

Plato (427-347 SM), menulis tentang masyarakat yang dicita-citakan (ideal society), dimana terwujud keadilan yang sempurna dan juga meneliti makna kata “keadilan” serta meneliti pelbagai cara untuk menetapkan apakah sesuatu msyarakat dikatakan adil ataukah tidak.

Demikian juga Aristoteles (384-322 SM), sebagai murid Plato, tidak hanya menulis buku-buku tentang fisika, biologi dan psikologi, tetapi juga menulis tentang logika, dan juga epistemologi (teori pengetahuan).

Terhadap sesuatu problim para filsuf di samping memikirkan sendiri, namun untuk memperoleh jawaban yang berupa kebenaran mereka juga mengadakan dialog-dialog (tanya jawab). Kata dialog berasal dari kata Yunani dialectic yang berarti bercakap-cakap. Dalam filsafat Yunani, dialektic berarti kemahiran (art) untuk mencari kebenaran melalui percakapan. Menurut Socrates, dialog merupakan kegiatan kefilsafatan yang pokok dan penting. Kebenaran tidak pernah selesai, sehingga perlu mendengar pendapat atau buah pikiran orang lain. Karena itu dalam melaporkan dan menerangkan filsafat, Socrates dan Plato menggunakan bentuk dialog.

Bersangkutan dengan Nilai-nilai

Persoalan-persoalan kefilsafatan bertalian dengan keputusan-keputusan tentang pernilaian moral, estetis, agama dan sosial. Filsafat merupakan kegiatan untuk mencari kebijaksanaan atau kearifan (wisdom), jadi bukan mencari informasi tentang fakta-fakta. Yang dimaksud dengan wisdom adalah suatu sikap menilai dan menimbang-nimbang sejumlah tindakan dengan memberikan penafsiran yang masuk akal.

Nilai (value) adalah keberhargaan atau keunggulan pada sesuatu hal yang menjadi objek dari keinginan manusia yang didambakan, diperjuangkan dan dipertahankan. Dengan adanya nilai-nilai yang ada dalam kehidupan manusia, maka manusia merasa senang, merasa puas atau merasa bahagia. Nilai-nilai bersangkutan dengan pemahaman dan penghayatan manusia. Para filsuf mendiskusikan pertanyaan tentang nilai-nilai yang terdalam (ultimate values). Kebanyakan pertanyaan kefilsafatan berkaitan dengan hakikat nilai-nilai. Hasil-hasil pemikiran manusia tentang alam, kedudukan manusia dalam alam, sesuatu yang dicita-citakan manusia, semuanya itu secara tersirat mengandung nilai-nilai. Misalnya pertanyaan “apakah Tuhan itu? Jawaban yang diberikan berupa norma-norma yang digunakan dalam menilai tindakan dan memberi bimbingan dalam mengadakan pilihan atas perbuatan yang akan dilakukan.

Ada perbedaan antara filsafat dan ilmu dalam kaitannya dengan masalah nilai-nilai. Ilmu pengetahuan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang fakta-fakta yang bersifat kuantitatif. Ilmu pengetahuan tidak memberikan jawaban tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ilmuwan. Apabila seorang ilmuwan diajukan pertanyaan tentang hydrogin cyanide dan penicilin, maka mereka akan menjawab bahwa hydrogin cyanide adalah racun yang baik, sedangkan penicilin adalah zat pembunuh kuman. Jawaban ilmuwan hanya berupa fakta-fakta. Dalam hal ini ilmuwan tidak memberikan jawaban atas pertanyaan apakah euthanasia atau mematikan (bukan membunuh) pasien karena belas kasihan (mercy killing) dapat dibenarkan secara moral ataukah tidak. Hanya mengandalkan ilmu saja, para ilmuwan tidak mengetahui apa yang seharusnya dilakukan terhadap penicilin dan hydrogin cyanide.

Bersifat Spekulatif

Persoalan filsafat yang dihadapi manusia melampaui batas pengetahuan sehari-hari bahkan melampaui batas pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang bersifat empiris atau pengetahuan yang menyangkut fakta atau kenyataan yang dapat diindera. Pengetahuan fakta adalah pengetahuan yang dapat diukur, dihitung atau ditimbang yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka atau bersifat kuantitatif. Memang ada fakta tentang filsafat, misalnya Plato menulis buku “Republik”’, dan Immanuel Kant meninggal tahun 1804. Bila seseorang menanyakan pada Anda tentang “Apa filsafat anda?”, berarti jawabannya bukanlah definisi-definisi atau fakta-fakta historis yang Anda ketahui atau informasi khusus yang Anda miliki melainkan Anda mencoba menyatakan makna tentang apa yang Anda ketahui dan Anda punyai.

Misalnya seorang ilmuwan memikirkan salah satu dari beberapa kejadian alam yang disebut “hujan”. Ilmuwan dapat memikirkan sebab-sebab terjadinya hujan dan memberikan deskripsi tentang kejadian itu. Dalam suatu kawasan ilmuwan dapat meramal daerah-daerah mana yang terkena hujan yang tinggi rendahnya hujan dapat dinyatakan dalam bentuk ukuran yang besifat kuantitatif. Namun ilmuwan tidak mempersoalkan maksud dan tujuan hujan, karena hal itu di luar batas kewenangan ilmiah. Ia tidak menanyakan apakah ada “kekuatan” atau “tenaga” yang mampu menimbulkan hujan. Ilmuwan tidak memikirkan apakah kekuatan atau tenaga yang menimbulkan hujan itu berwujud materi atau bukan-materi. Pemikiran tentang “maksud”, “tujuan” dan “kekuatan” itu bersifat spekulatif, artinya melampaui batas-batas pengetahuan ilmiah.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para filsuf melampaui batas-batas pengetahuan yang telah mapan (established), artinya para filsuf itu berusaha untuk menduga kemungkinan yang akan terjadi. Para filsuf telah memberikan sumbangan yang penting dengan membuat terkaan-terkaan yang cerdik (intelligent guess) tentang hal-hal yang tidak tercakup dalam pengetahuan yang sekarang dimiliki masyarakat. Misalnya tentang ‘kematian”, “kebahagiaan”, “masyarakat adil makmur”, “manusia seutuhnya”, “civil society”. Dalam sejarah filsafat Yunani dicatat vahwa Democritos (460-370 SM) menyatakan jauh sebelum bukti-bukti ilmiah kemudian membuktikan adanya atom-atom. Demikian pula Empedocles (w. 433 SM) mengajukan teori tentang evolusi jauh sebelum para ilmuwan biologi menarik kesimpulan yang sama tentang teori itu. Banyak temuan-temuan ilmiah dalam bidang psikologi dan sosiologi yang memperkuat teori-teori filsafat yang telah dikemukakan sebelumnya oleh para filsuf. Namun tidak dapat diingkari bahwa para filsuf telah mengajukan banyak sekali terkaan namun kemudian ditolak oleh fakta-fakta yang dikemukakan oleh para ilmuwan.

Para filsuf merenungkan apa hakikat kenyataan sampai melampaui batas-batas pengetahuan ilmiah yang bersifat empiris. Pertanyaan-pertanyaan apakah Tuhan itu ada atau tidak, apakah ada nilai-nilai yang terdalam, apakah ada tujuan terakhir dari semua yang ada. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak ditujukan pada seorang ilmuwan, akan tetapi ditujukan pada seorang filsuf. Pertanyaan kefilsafatan bukanlah pertanyaan yang menyangkut fakta yang mungkin ilmuwan dapat menjawabnya. Pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan menanyakan nilai-nilai dan makna-makna dan bahkan mencakup nilai dan maka itu sendiri. Jawaban atas pertanyaan kefilsafatan menuntut perenungan secara imajinatif, dan kesiapan untuk melampaui fakta-fakta dengan maksud dapat merumuskan beberapa hipotesis yang lebih dapat dipahami daripada semata-mata meninjau secara ilmiah.

Ciri-ciri Problem Filsafat

Problim kefilsafatan tidak bersangkutan dengan objek-objek atau peristiwa-peristiwa khusus. Dengan kata lain sebagian problim filsafat bersangkutan dengan ide-ide besar (great ideas), misalnya ide tentang kebenaran (truth), kebaikan (goodness) dan keindahan (beauty). Ide-ide pokok itu masing-masing bersangkutan dengan lingkungan tertentu atau dikenakan bagi pokok persoalan tertentu.
Kebenaran secara umum bersangkutan dengan pemikiran dan cabang filsafat yang disebut logika. Wacana-wacana dalam bidang pengetahuan, khususnya pengetahuan ilmiah, dipengaruhi oleh ide kebenaran. Orang berbicara tentang kebenaran dalam bidang ilmu pengetahuan, matematika, filsafat, sejarah, agama, teologi. Kebenaran juga dipersoalkan apakah hanya ada dalam pertimbangan pikiran ataukah dalam pengungkapannya dalam bentuk bahasa, atau pada kemampuan pencerapan indera atau pada pengalaman-pengalaman manusia. Persoalan-persoalan yang bersangkutan dengan ide kebenaran sangat luas. Apakah ukuran kebenaran itu? Bagaimana hubungan antara kebenaran dengan kenyataan. Macam-macam kebenaran, misalnya kebenaran teoritis dan kebenaran praktis, kebenaran illahi dan kebenaran manusiawi, kebenaran kata dan kebenaran makna. Segi moral dari kebenaran, misalnya persaratan untuk menemukan kebenaran di antaranya kemerdekaan berpikir dan kebebasan berdiskusi.
Kebaikan pada umumnya bersangkutan dengan kehendak manusia atau realisasinya dalam tindakan atau tingkah laku dan merupakan pokok persoalan dalam etika atau moral. Ide tentang kebaikan (goodness) atau yang baik (the good) atau sifat baik (good) dapat dikatakan bersangkutan dengan manusia, benda maupun Tuhan. Orang dikatakan baik kalau dia sering menolong atau membantu orang lain. Suatu kehendak dikatakan baik kalau dilatarbelakangi dorongan tanpa pamrih. Suatu kehidupan keluarga dikatakan baik kalau keluarga itu hidup sejahtera dan bahagia dan dihargai masyarakat. Suatu masyarakat dikatakan baik kalau kehidupan sekelompok orang yang sifatnya adil dan suasana damai. Sebuah pisau dikatakan baik karena benda itu tajam dan enak digunakan. Sebuah lukisan dikatakan baik dalam arti lukisan itu baik dilihat dan menimbulkan perasaan senang. Dalam ajaran agama ada ungkapan yang menyatakan “Tuhan itu maha baik”.
Bertitik tolak dari ide kebaikan, manusia dalam melakukan tindakan yang menyangkut sesama manusia pada umumnya berpijak pada tiga ide pokok lainnya yaitu keadilan, persamaan dan kebebasan. Ketiga ide itu merupakan tiga serangkai ide sebagai dasar dan ukuran dalam berbagai perbuatan seseorang dalam hubungannya dengan orang-orang lain. Keadilan, persamaan dan kebebasan merupakan tiga serangkai ide pokok secara bersama-sama menjadi cita yang baik bagi perbuatan manusia dalam kehidupan masyarakat di manapun. Berbuat adil berarti berbuat baik atau mewujudkan ide kebaikan. Menghargai persamaan dan kebebasan pada orang lain berarti berbuat baik atau mewujudkan ide kebaikan.
Keindahan pada umumnya dikaitkan dengan perasaan senang dan merupakan persoalan pokok dalam estetika (filsafat keindahan) dan seni(art). Keindahan memberikan kepada manusia perasaan senang atau pengalaman yang menyenangkan. Ide keindahan atau hal yang indah dalam kehidupan manusia bertebaran dalam alam dan seni.

Persoalan Filsafat

Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum, heran dan takjub terhadap gejala yang dihadapi. Pada tahap awalnya kekaguman, keheranan dan ketakjuban itu terarah pada gejala-gejala alam misalnya gempa bumi, gerhana matahari, banjir, pelangi. Orang yang heran berarti ada sesuatu yang tidak diketahuinya, atau dia menghadapi persoalan.

Problim inilah yang ingin dipecahkan oleh para filsuf sehingga diperoleh jawaban. Dari mana jawaban diperoleh? Kalau jaman sekarang jawaban lebih mudah diperoleh misalnya dari orang lain, membaca buku, atau mendengarkan ceramah. Pada waktu itu yaitu awal dari munculnya filsafat, banyak orang yang tidak mengetahui, maka untuk memperoleh jawaban dilakukan dengan mengadakan refleksi (berpikir tentang pikirannya sendiri) yaitu bertanya pada dirinya sendiri, dipikirkan sendiri dan dijawab sendiri. Dalam hal ini tidak semua problim itu mesti problim filsafat. Ada problim sehari-hari, problim ilmiah, problim filsafat dan problim agama. Problim filsafat berbeda dengan problim yang bukan filsafat terutama yang menyangkut materi dan cakupannya.

Klasifikasi Filsafat

Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama , menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama. Menurut wilayah bisa dibagi menjadi: “Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”, dan “Filsafat Timur Tengah”. Sementara latar belakang agama dibagi menjadi: “Filsafat Islam”, “Filsafat Budha”, “Filsafat Hindu”, dan “Filsafat Kristen”.

Pengantar Filsafat

Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".

Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah problem falsafi pula. Tetapi, paling tidak bisa dikatakan bahwa "filsafat" adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis.[1] Hal ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektik. Dialektik ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, dan couriousity 'ketertarikan'. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sedikit sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.